Perbedaan Serius Mahasiswa Dengan Sampah

Mahasiswa. Saya dulu sangat bangga ketika pertama kali didaulat menjadi seorang ‘mahasiswa’. Bayangkan; m.a.h.a.s.i.s.w.a. Siapa yang tak ingin disebut mahasiswa? Orang bodoh dari kampung manakah yang tidak ingin digelari mahasiswa, heh?

‘Maha’ artinya ‘amat sangat’ atau ‘yang teramat’. Jadi kalau digabung dengan kata ‘siswa’ ya artinya pikir sendiri. Dan kalau dipikir-pikir, satu-satunya oknum yang selama ini digelari ‘maha’ ya cuma Tuhan saja. Tuhan itu disebut Maha Pengasih, Maha Pandai, Maha Pemberi, Maha Kaya, dan sebagainya. Jadi, bisa dibayangkan, cuma mahasiswa yang bisa disandingkan dengan Tuhan dalam hal pemakaian kata maha.

Tapi kan itu cuma nama. Sekarang, saya sangat-sangat-sangat kecewa dengan yang namanya mahasiswa. Apa itu mahasiswa? Ngakunya kuliyah (mempelajari sesuatu secara utuh menyeluruh universal), padahal aslinya juga juz’iyah (mempelajari sesuatu secara parsial). Jadi nama kampusnya mestinya bukan universitas, tapi lebih cocok disebut fakultas, karena ilmu-ilmunya saja fakultatif, bukan universal. Begitu kata salah seorang budayawan besar kita.

Memang benar. Apa yang bisa dibanggakan dari embel-embel selangit itu? Kagak ade. Dulu dalam bayangan saya, ketika disebut kata ‘mahasiswa’, otak saya langsung tertuju ke Bung Karno, Bung Hatta, Soe Hok Gie, atau setidak-tidaknya mahasiswa 98. Kalau sekarang kata ‘mahasiswa’ disebut, saya kepingin muntah. Bukankah kini tugas kebanyakan mahasiswa hanya lima? Menulis makalah, ikut seminar, facebookan, pacaran, dan ndangdutan. Kalau Anda adalah seorang mahasiswa dan tidak ikut-ikutan melakukan hal-hal bodoh diatas, maka saya adalah pengagum Anda.

Tapi penghormatan yang amat sangat mendalam saya anugerahkan kepada separuh mahasiswa aktivis (yang bener-bener aktivis) dan mahasiswa pemikir (yang benar-benar mikir). Jadi saya kadang salut dengan mereka yang rela meninggalkan bangku kuliah hanya untuk meneriakkan ketidakadilan di jalanan, atau juga mereka yang menolak memikirkan pelajaran-pelajaran kelas yang usang dan basi itu, tapi pikirannya mengembara ke lorong-lorong gelap dimana sebagian rakyatnya, ibu bapaknya, termangu-mangu dalam lapar. Five thumbs up. Sayang, mahasiswa demikian mungkin tak kurang dari 5%. Sisanya adalah mahasiswa sampah.

Tahukah kita siapa mahasiswa sampah? Apakah mahasiswa yang sukanya merokok di dekat tempat sampah seperti saya? Tentu saja bukan. Mahasiswa sampah bisa dibagi menjadi beberapa sekte. Sekte pertama adalah sekumpulan spesies lulusan sekolah menengah, yang dikirim bapak ibunya dan dibiayai gila-gilaan untuk belajar di kampus, namun hingga detik ini ia masih saja bertanya-tanya pada rembulan: Mengapa saya harus kuliah? Kurang sampah bagaimana coba. Kuliah tapi nggak tahu kenapa harus kuliah. Itu adalah setolol-tololnya mahasiswa. Bahkan jurusan yang diambilnyapun kalau tidak disuruh orangtua ya karena ikut-ikutan orang lain. Atau mungkin yang lebih parah: just for fun, cuma buat iseng-iseng. Jadi kuliah = iseng-iseng.

Sekte kedua adalah sekumpulan remaja kemarin sore yang dengan langkah mantap memasuki gerbang kampus dengan satu tujuan: saya harus dapat kerjaan yang mantap nanti. Itu kan ngelawak. Kalau mau cari kerja, jangan kuliah, mending ke pasar saja jadi pengupas bawang. Itu pekerjaan dan sangat halalan thoyyibah.

Hei bung, bukankah ane ini lagi mengaplikasikan ilmu ane? Oh ya, ya. Itu bener banget. Innama a’malu bin niyat, jadi segala tindakan ente itu dinilai berdasarkan niat. Kalau niat Anda belajar di kampus, berguru pada dosen-dosen hebat itu, dan mengiqro’ buku-buku tebal itu semata-mata karena memang Anda ingin mencari ilmu, insya Allah, pekerjaanlah yang menunggu Anda, bukan Anda yang susah payah mencari pekerjaan.

Mengapa? Sebab lapangan pekerjaan adalah hal sepele bagi Tuhan, dan itu bakal dijadikan bonus buat Anda yang sudah susah payah menuntut ilmu. Lihatlah diri Anda di kaca, hoi mahasiswa, Anda itu terlalu agung dan besar buat mengejar-ngejar pekerjaan. Seharusnya, pekerjaanlah yang mengejar-ngejar Anda. Dalam titik ini, yang lebih pantas itu Anda, dengan sikap rendah hati dan menundukkan segala niatan ‘subversif’, mengejar-ngejar ilmu. Sebab, ilmu bakal mau datang pada Anda kalau Anda mau menghormatinya. Itu kata Imam Malik.

Itu masih baik. Banyak mahasiswa yang kuliah dengan alasan yang cukup ilmiah; yakni agar tidak kelihatan tidak-kuliah. Jadi kuliah ya biar disebut sebagai anak kuliahan. Ada lagi yang kuliah karena ingin cari teman atau pacar. Saya heran, kalau mau cari teman atau pacar, sepertinya mall itu lebih menjanjikan ketimbang kampus, yang adalah tempat orang-orang pinter, katanya. Mahasiswa-mahasiswa semacam ini tidak memecahkan masalah, malah menjadi masalah baru yang menyusahkan bangsa dan negara.

Soal niat saja kita sudah berpanjang lebar ngomong. Bagaimana dengan soal perjuangan mahasiswa yang seharusnya? Perjuangan yang bagaimana? Perjuangan untuk siapa? Benarkah mitos yang mengatakan bahwa kaum mahasiswa sesungguhnya adalah sekumpulan filsuf (pemikir nasibnya sendiri-sendiri)?

Saya sering membahas hal ini di blog saya dulu yang sudah almarhum itu. Mahasiswa adalah anak rakyat. sekali lagi; anak rakyat. Bukan anak pemerintah, anak pengusaha dan penguasa, anak ulama, anak pendeta, anak cukong dan sebagainya. Itu silahkan dilogikakan sampai kiamat. Hasilnya akan tetap sama: mahasiswa adalah anak rakyat, yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, dan harus berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat. Jadi omong kosong kalau ada mahasiswa nggacor soal kemajuan bangsa di kampus, sedang dengan tetangganya yang kelaparan saja dia cuek beibeh.

Singkat kata begini lho. Mahasiswa, yang mulai dari niat, proses, cara berpikir, hingga outputnya nanti benar-benar terlepas dari persoalan kehidupan masyarakatnya, dialah mahasiswa sampah. MAHASISWA yang katanya intelek namun tak mampu merumuskan situasi dan keadaan sekeliling, yang menjadi ilmuwan eksklusif dan terpisah dari derita sekitar, yang orientasinya adalah dirinya sendiri, yang mendewakan masa depan, yang bisanya hanya menelan lepehan-lepehan yang dilepehkan dosen-dosennya di kelas yang sebetulnya juga adalah lepehan-lepehan yang sudah dilepehkan puluhan kali, yang benar-benar summum bukmun ‘umyun fahum la-yar ji’un, tuli, bisu, dan buta pada permasalahan rakyatnya, dialah SAMPAH. Dia sangat tidak pantas digelari ulul albab, bahkan dia jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan anak TK yang semangat belajar berhitung dan membaca. Demikian pula kuliah, jika yang disebut kuliah ini adalah pelajaran hafalan miskin dialektika bermetodekan taklid buta dan membahas soal-soal awan gemawan yang terpisah dari derita masyarakat, maka kuliah itu juga SAMPAH dan pantas diludahi. Serta jangan lupa, yang namanya sampah harus dibuang ke tempat sampah.

Begitulah. Mari lanjutkan perjuangan Oi Mahasiwa Indonesia. Jangan jadi pelawak kehidupan yang tidak lucu dan pakailah akal dan nuranimu sebagai senjata utamamu di kampus. Berdirilah di garda depan dalam membacakan pleidooi bagi kaum-kaum tertindas! Oi!

5 responses to this post.

  1. “Mantap…”

    Setuju bang… hidup anggota datasemen 68 ^_^

    Reply

  2. Posted by hendra on February 12, 2011 at 6:39 pm

    Pemikiran yang baik 0I 🙂

    Reply

  3. Posted by Ryan on February 13, 2011 at 9:10 am

    Asyik nih baca kek ginian,,mantab abiss dah pemikirannya,,,,HIDUP MAHASISWA

    Reply

  4. Posted by feyna on April 18, 2011 at 3:48 am

    Keren…Pemikiran dari segelintir orang yang mudah2an kalo diaplikasikan dalam tulisan begini bisa merubah pola pikir segelintir orang lagi…Segelintir tambah segelintir, lama2 kan bisa bergelintir bergelintir..(apa sih?????)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: