Bukan Kemiskinan Benar Menusuk Kalbu

Secara kasar masih ada sekitar 100 juta rakyat Indonesia yang berpenghasilan kurang dari 20.000 rupiah atau dengan bahasa bumi; hidup di bawah garis kemiskinan. Maka segala teori tentang kemajuan bangsa dan negara menguap dan menjadi takhayul pembangunan manakala kita dihadapkan pada kenyataan semacam ini, yang dari tahun ke tahun selama puluhan tahun tak pernah bisa kita atasi secara tuntas. Mungkin bukan soal kemampuan, tapi lebih ke soal kemauan saja.

Tak pernah saya percaya bahwa kemiskinan yang melilit sebagian besar saudara saya ini adalah ciptaan Tuhan, takdir, atau proses alamiah. Ini adalah konsekuensi logis dari pembiaran demi pembiaran demi pembiaran demi pembiaran yang dilakukan oleh empat kumpulan oknum yang akan segera saya bahas. Tuhan jelas berstatemen di Qur’an bahwa Ia melebihkan rezeki pada siapapun umat-Nya yang dikehendaki serta tidak melebihkan rezeki pada umat-Nya yang lain yang Ia kehendaki. Tapi mohon dicatat: para pengelola ‘aset Tuhan’ di muka bumilah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak, kudrat dan iradat, untuk membagi-bagikannya kepada saudara-saudaranya yang lain yang membutuhkan. Jika terjadi ketimpangan, dalam artian ada yang kaya dan ada yang dimiskinakan, ada yang jaya dan ada yang dihinakan, tentu para pembagi rizki Tuhan inilah yang nyata kesurupan setan belang duniawi.

Setidaknya ada empat oknum yang selama ini bersatu padu dalam rangka menciptakan kemiskinan rakyat. Yang pertama adalah oknum penguasa. Oknum penguasa ini tersebar mulai dari pemerintahan pusat hingga pemerintahan daerah, mulai dari wakil rakyat hingga lurah. Penguasa, terutama yang didalam pikirannya samasekali tidak ada niatan mulia dan dalam kerjanya tidak ada tindakan nyata untuk mengentaskan persoalan-persoalan rakyatnya, maka itulah penguasa yang lalim. Penguasa yang hanya memiliki dua keahlian utama: berkoar soal kemajuan dan di waktu lain memboboli segala apa yang menjadi milik rakyat sambil diam-diam merancang pembodohan didalam kepala rakyat; merekalah yang paling pantas dikalungi tanda tanya besar.

Oknum kedua adalah kaum hartawan, terutama yang dalam kekayaannya tidak disisihkan apa yang menjadi hak saudaranya yang lemah. Kekayaan yang hanya memicu kesombongannya dan memacu nafsunya untuk terus-menerus tanpa rasa bersalah sedikitpun melakukan penimbunan hak-hak orang lain, adalah haum hartawan yang mendustakan agama dan tak berguna harta bendanya. Menilik kebijakan ammirulmukminin Umar bin Khattab dahulu terhadap orang-orang semacam ini; mereka pantas dipotong ‘tangannya’.

Oknum ketiga adalah kaum berilmu, terutama yang dengan ketinggian ilmunya ia tidak mampu merumuskan atau melakukan apapun demi perbaikan nasib saudara-saudaranya yang sengsara. Ilmu yang dipelajarinya sengaja dilepaskan dari persoalan kehidupan dan derita sekitar demi kepentingan-kepentingan pragmatis-individual, yang sebenarnya cukup membuat para ulul albab sejati terbahak-bahak dibuatnya. Itulah ilmu yang tidak punya arti dan tidak berguna. Kaum ilmuwan yang demikian –termasuk kalangan mahasiswa didalamnya- adalah orang-orang berilmu yang bodoh, dan mereka pantas dimasukkan ke dalam tong sampah kehidupan.

Dan oknum terakhir yang selama ini aman-aman saja dari tudingan penyebab kemiskinan adalah kaum beriman, terutama mereka yang dengan keimanannya dianugerahkan pula kemampuan untuk memikirkan atau melakukan sesuatu bagi masyarakat miskin disekitarnya, namun tidak mau melakukannya; merekalah orang-orang yang merugi. Padahal, dalam hampir semua agama, empati kepada kaum yang papa adalah salah satu ajaran Tuhan. Menghadapi kemiskinan tidak cukup hanya dengan khotbah tentang kesabaran dan hakekat kehidupan, tapi juga diperlukan tindakan nyata senyata-nyatanya. Bertauhid di depan Tuhan sambil mempersetankan kemiskinan saudaranya, adalah omong kosong.

Keempat oknum itulah yang selama ini telah sukses dalam rangka melanggengkan kemiskinan yang membelenggu sebagian besar saudara kita. Amatlah bodoh jika kita menganggap memberantas kemiskinan hanyalah tugas negara. Tidak demikian. Memberantas kemiskinan juga adalah tugas kita bersama, sebagai manusia yang punya hati nurani dan rasa kemanusiaan. Kemiskinan tidak dientaskan melalui rencana-rencana besar yang kosong, namun dimulai dari hal-hal kecil, melalui serangkaian tindakan nyata yang kita gagas sendiri, dan segera kita lakukan saat ini juga.

Bukan kemiskinan benar menusuk kalbu, hanya, mengapa kita sudah sedemikian tuli, bisu, dan buta pada saudara-saudara kita yang kurang beruntung, dan dengan bangganya pula kita sebut diri kita sebagai hamba Tuhan Yang Maha Pengasih. Jangan-jangan, kitalah yang dimaksud tuli, bisu, dan buta oleh Al-Qur’an itu…

2 responses to this post.

  1. kemanakah kita selama ini..?

    Reply

  2. Posted by Herizal Alwi on November 28, 2011 at 6:27 pm

    Nice Job
    🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: