Kehidupan Macam Apa Ini, Ya Allah?

Ketika wabah kelaparan hebat melanda Jazirah Arab, amirulmukminin Umar bin Khattab mengharamkan makanan ‘enak’ bagi dirinya sendiri sampai musibah itu selesai. Kata ‘enak’ memang perlu ditandapetiki, sebab makanan ‘enak’ bagi khalifah sebesar Umar hanyalah samin, susu, dan daging. Saat musibah melanda, beliau hanya makan minyak zaitun. Sekitar 10.000-50.000 rakyat jelata tiap malam berkumpul di depan rumahnya untuk makan bareng pemimpinnya, dan Umar sendiri yang melayani dengan tangannya. Adapun di Indonesia, wabah kelaparan melanda setiap hari, rakyat yang kelaparan mencapai jutaan orang tiap menit, dan pemimpin kita masih bisa makan malam secara elegan dalam alunan biola…

Ya Allah, kehidupan macam apa ini? Mengapa kemiskinan yang terjadi di negeri ini seolah sangat sulit diatasi? Mengapa kemiskinan selalu diintip dari korden kepresidenan?

Rasulullah menitipkan delapan golongan marjinal pada kaum Muslimin, tak terkecuali Muslim Indonesia. Sedangkan tugas kita adalah mendustakannya. Ya, kitalah para pendusta agama. Kita selama ini kan hanya sibuk ngurusi aliran sesat, bid’ah, fatwa, dan tetek bengek akidah, seolah kita semua sudah amat meyakini diri berada dalam shirataal mustaqiim, tanpa kesadaran sedikitpun bahwa sesungguhnya kita ini cuma pengikut shirataal mainstream, -jalan orang-orang banyak, yang belum tentu Allah ridha dengannya. Maka terkutuklah orang-orang yang hanya bisa bicara itu!

Tak terhitung jumlah pengikut Nabi Muhammad disini, dan tak terhitung pula para pendusta ajaran kasih sayang dan kemanusiaan beliau. Tak terhitung jumlah masjid megah yang dibangun di sepanjang negeri ini, bertingkat-tingkat dengan kubah gagah perkasa, namun hanya secuil yang meniru konsep masjid Rasulullah, Masjid Nabawi, yang punya ruangan khusus untuk orang-orang miskin. Ya Allah, apalah artinya itu?

Umat Islam keder dihadapkan kemiskinan, seolah kita tak pernah diajar bab zuhud, hubbud dun-ya, cinta sesama, dan sebagainya. Tuhan selalu disebut Maha Kaya, tapi kenyataannya hamba-hamba-Nya me-Maha-Kaya-kan selain-Nya. Muhammad Sang abdan nabiya, nabi rakyat jelata, malah dilangkahi oleh umatnya yang ingin hidup jauh lebih kaya ketimbang nabinya, namun diatas kertas sangat bakhil menafkahkan hartanya pada yang membutuhkan. Bagi mereka, cukuplah Islam adalah syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji, tanpa perlu-perlu sakit kepala memikirkan nasib gelandangan di jalan raya. Shodaqoh dan infaq dilaksanakan dalam konsep suka-suka dan iseng-iseng, dan tak ada rasa bersalah sedikitpun manakala dapur tetangganya kering kerontang. Mereka bertakbir, namun dengan takbir kosong.

Ya Allah, kehidupan macam apa ini? Engkau berkali-kali mengancam mereka yang meludahi kemiskinan dengan dosa dan neraka, namun tampaknya tak pernah ada rasa takut atau minimal rasa sungkan pada ancaman-Mu. Buktinya, gelandangan di pinggir jalan makin hari makin panjang, dan jumlah keluarga yang hidup jauh di dasar garis kemiskinan semakin menjadi-jadi di desa maupun kota.

Kekayaan yang melimpah ruah, adalah lambang kemanusiaan. Kekuasaan yang berkilau, adalah hakekat kehidupan. Di negeri kami, hampir semuanya: kaum berharta, kaum berkuasa, kaum berilmu, kaum beriman, telah bersatu-padu menciptakan kemiskinan rakyat! Ya Allah, tiap hari kami berbaris saling menyikut ingin memasuki surga-Mu tanpa inisiatif sedikitpun untuk mengajak mereka menikmati surga-Mu juga. Ya, kami ingin masuk surga sendiri-sendiri. Maka bagi kami sah-sah saja berhaji lima kali sementara sanak kerabat terdekat kami kesusahan. Kami sanggup berfilsafat, berkelana dalam alam malakut, memperbincangkan hakekat kehidupan dan kematian, pada saat orang banyak sedang butuh makan.

Maka jika telah sampai satu waktu dimana hanya Engkau yang tersisa dalam kalbu doa orang-orang miskin, maka sungguh, aku pasrahkan apa saja adzab dan murka yang bakal Engkau hantamkan ke negeri kami. Sebab kami tuli, buta, dan bisu akan penderitaan saudara kami, yang berlangsung di depan batang hidung kami…

One response to this post.

  1. Posted by suaibah on September 16, 2010 at 4:29 am

    subhanallah..
    kata demi kata terangkai dengan begitu indahnya..speechless deh..
    semoga selalu ada tarbiyah dalam segala bentuk permasalahannya..
    dan semoga kita semua mampu bermuhasabah atas apa yang menimpa saudara2 kita yang kurang beruntung, menjadi cermin untuk sesama sebagaimana yang Rasulullah SAW pernah sabdakan.

    wallahualam bissawab..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: