Kesombongan Embongan

Malam itu pukul 11, malam bulan Ramadhan, saya mancal sepeda hendak ke suatu tempat. Di tengah jalan raya, ada dua orang ibu-ibu yang masih mengenakan rukuh hendak menyebrang jalan. Tiba-tiba dari jauh sebuah klakson motor melengking penuh amarah Tiiiiiiiiiin!!!!! Ibu-ibu itu gelagapan dan langsung meloncat ke pinggir jalan. Beberapa saat kemudian sang pengendara motor keren itu misuh dengan sangat keras: J@%#$*&#%K!!!!!!! Ibu-ibu yang masih kaget itu komat-kamit entah apa kalimatnya.

Saya tertegun. Hati saya mungkin keruh waktu saya berdoa agar dua orang pengendara motor itu nanti jatuh terguling-guling tanpa sebab, mulutnya berdarah dan motornya rusak. Saya bayangkan misal saya punya pistol akan saya tembak ban motor itu agar cecunguk angkuh itu spontan terjungkal, lantas saya seret ia buat minta maaf ke ibu-ibu itu. Tapi itu cuma ada dalam alam khayalan saya saja.

Itu bukan kali pertama saya jadi saksi betapa angkuhnya kebanyakan orang-orang di embong. Pernah saya lihat tabrakan di tikungan antara dua motor. Habis tabrakan, si pengendara yang masih muda dan tak merasa bersalah itu kontan menonjok wajah bapak tua yang tidak sengaja menabrak motornya itu. Pernah saya lihat gelandangan ditangkap Satpol PP, diikat, dan ditidurkan di bawah mobil SPP, lantas ditampar mulutnya di depan orang banyak. Semua itu cuma membawa pada satu kesimpulan: jalan raya adalah tempat para fir’aun-fir’aun menyandiwarakan keangkuhannya.

Jangan ngomong negara ini sudah merdeka, sedang di jalan raya kota banyak sekali orang yang dirampas kemerdekaannya. Pengendara sepeda, pejalan kaki, gelandangan, penyebrang jalan; semua dinistakan hak-haknya. Apalagi jika kepala suku negeri ini akan lewat, maka rakyat -yang adalah pembayar pajak- yang harus minggir.

Kondisi berbeda saya dapati di pedesaan. Ketika saya bersepeda di sana, hampir semua orang yang berpapasan selalu tersenyum, walau kita tak saling kenal. Waktu saya kehilangan rute kawan bersepeda, seorang ibu di pinggir jalan tanpa ditanya langsung menunjuk: tadi temannya kesana, mas! Dan waktu kami lelah bersandar di pinggir jalan, seorang penduduk malah mengajak kami masuk istirahat di rumahnya. Dalam logika orang desa, siapapun yang lelah maka wajib ditolong. Tak ada wasangka, kecurigaan, atau apapun andaikata saya ini sebenarnya adalah seorang perampok keji yang hendak menguras isi rumahnya. Altruistik, itu kosakata yang mungkin hanya eksis di pedesaan.

Kadang saya iseng bertanya, siapa yang lebih manusia antara orang desa dan orang kota? Orang kota memacu hidup siang malam seolah tak mau ketinggalan dunia, sedang disampingnya berderet-deret para pengemis, yatim piatu, dan gelandangan, dan mereka masih mengaku sebagai umat beragama. Orang desa yang pergi dan menetap di kota bahkan tak ada jaminan akan bisa mempertahankan kebersahajaannya. Entah kota ini lebih tepat disebut sebagai arena dehumanisasi manusia ataukah kota memang bukan tempatnya manusia.

Nilai-nilai ekonomi modern hampir semuanya menemukan tempatnya di kota. Time is money, profit-oriented, bisnis dan kapitalisasi, adalah istilah-istilah yang diciptakan di kota. Kata-kata semacam itu akan mentah jika diterapkan di desa. Kantor pemerintahan, kelurahan, bank, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, pengajian, gerakan moral, bakti sosial, hanya bisa jalan jika disumpal dengan uang. Orang desa bersatu-padu mengurusi hajatan tetangganya dengan menyumbang apa saja yang mereka punya. Dalam logika orang kota, jelas itu sangat tidak moneymaking dan wasting time. Kota adalah tempat segala drama kesombongan, keangkuhan, keculasan, ketidakadilan, dan penindasan. Lebih menyakitkan sebab semua kecongkakan itu kadang ditutupi dengan retorika agama, nasionalisme, dan jargon ‘persaudaraan, kesamaan, dan kesetaraan’. Kota adalah markasnya para teoris kehidupan yang pandai berkhayal tentang surga dan neraka, sedang desa adalah tempatnya praktisi kehidupan dan mereka hidup benar-benar sebagai manusia dalam artian yang harfiah. Kota sampai kapanpun akan selalu bersedia menyingsingkan lengannya untuk mengganyang siapapun yang lemah hanya demi sustaining life. Ya Allah, betapa kota telah meminoritaskan segelintir penduduknya yang masih bersetia pada hati nurani dan nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Maka pernah saya berdoa agar jangan sampai orang-orang desa hijrah ke kota. Nanti tidak ada lagi makhluk yang namanya manusia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: