Para Juru Bicara Tuhan

Betapa semakin bertele-telenya perdebatan rawan antara kaum pro-syari’at Islam dengan kaum anti-syari’at Islam. Tidak bisakah mereka mengunci rapat mulutnya ataukah keahlian mereka hanyalah sebatas mendengarkan bunyi mulutnya sendiri?

Sangatlah laknat mereka yang hanya bisa memperdebatkan soal-soal remeh ini; negara, ideologi negara, hukum, sistem hukum, sistem politik, sistem ekonomi, gerakan internasional. Butakah mereka pada kalimat di kitab suci wa mal hayatud dun-yā illa la’ibuw wa lahwun bahwa apa saja yang mereka bentur-benturkan satu sama lain selama di dunia ini, asline mung dolanan lan guyonan.

Bahwa apa yang selama ini mereka kicaukan tak lebih adalah soal kekuasaan dan kekuasaan, dan sebetulnya perjuangan yang mereka koordinir dengan penuh semangat permusuhan itu hanyalah demi kepentingan kelompok masing-masing. Fundamentalis Islam menuduh Republik Indonesia sebagai negara sekuler dengan hukum bikinan kafir. Tidakkah mata mereka mengeja sila pertama Pancasila itu isinya apa dan apakah pernah selama RI berdiri mereka sholat dibawah todongan senjata ABRI? Dan kepada mereka yang disebut ‘kaum nasionalis sekuler’, apakah luput dari alam demokratisnya untuk membuka satu diskusi nasional untuk menarik nilai-nilai syari’at Islam yang mumpuni untuk masa ini?

Bahwa itulah sedikit cuplikan dari penyakit kronis bangsa ini yang sangat tidak produktif dan suka mencari keributan seperti kucing yang bertengkar. Betapa rumitnya mereka memahami negara (state) dengan agama, menyelaraskan atau membenturkan Pancasila dengan Syari’ah Islam, antara Negara Bangsa atau Negara Islam. Dan kata ‘daulah’ dalam Al-Qur’an diartikan sebagai ‘kampung’, atau jika pakai bahasa sekarang adalah ‘negeri’. ‘Negeri’ sangatlah berbeda dengan ‘negara’.

Negeri adalah pemaknaan kultural suatu wilayah daerah, sedang negara adalah pemaknaan politis suatu wilayah. Negeri jauh lebih besar ketimbang negara. Negeri tak harus selalu butuh pemimpin; yang membuat suatu negeri eksis hanyalah penduduk, makanan, dan wilayah. Sedang negara/state adalah konsep manusia modern untuk mengkavling-kavling dunia, dimana ‘penduduk’ disebut ‘warga negara’, dan pemimpinnya digelari sesuai sistem yang dianut. Negara jauh lebih rumit dan rewel ketimbang negeri. Negara itu kaku, saklek, intoleran, despotik, dan rigid dalam menerapkan kehendak-kehendaknya yang tertuang dalam sistem hukum. Kalau pakai bahasa yang lebih membumi, kaum PKL dalam ‘negeri’ jelas tak akan pernah digusur sebab tak ada perda-perda cerewet yang mengatur itu, tapi jika si PKL main-main berdagang seenaknya sendiri di satu wilayah teritori ‘negara’, ia ditangkap pamong praja.

Dalam konteks Indonesia, apa yang kau sebut ‘Negara Indonesia’, sebenarnya adalah anak bontot ‘Negeri Indonesia’, yang sudah eksis bahkan sebelum Cornelis de Houtman si Londo itu dan cs-csnya mendarat di Nusantara. Dan setelah kemerdekaan, Negara Indonesia didaulat oleh bapaknya, yakni Negeri Indonesia, untuk menyelenggarakan tata administrasi pemerintahan, menjaga iklim ketertiban dan keamanan, mengusahakan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya, mengupayakan hubungan diplomasi, dan serentetan tugas-tugas lainnya. Negara diberi setumpuk ‘surat jalan’ berupa undang-undang dan segala wewenang. Negara diperkenankan oleh rakyat untuk memiliki dan menggaji pegawai-pegawainya mulai dari Presiden hingga lurah yang kesatuan mereka semua disebut sebagai pemerintah. Semua itu dilakukan hanya agar tercipta kesejahteraan bersama, tata titi tentrem.

Jadi bisa dibayangkan betapa orang-orang yang merugi sebagaimana para juru bicara Tuhan yang bisanya hanya bertengkar dan tidak punya kemampuan apapun untuk mengatasi persoalan bangsa dan negara. Mereka seolah tak terima kenyataan bahwa pengelolaan kehidupan bersama sudah dimandatkan pada ‘negara’, dan ‘negeri’ yang sudah diurus oleh negara ini seharusnya menciptakan satu iklim yang baik, entah untuk berdakwah, berkarya, bekerja, dan sebagainya. Dan negeri yang masih punya segudang masalah ini adalah ladang amal, ladang jihad, ladang dakwah, andai para beliau itu tidak sibuk mengatur Tuhan dan Kitab Suci agar nurut maunya, tapi mereka mau juga mengabdikan diri pada kehidupan negeri, yang kalau pakai kacamata mereka; kehidupan Islami, darul al-islam. Kabarkanlah kebenaran agamamu masing-masing dan rangkullah saudara-saudaramu yang lain tanpa membeda-bedakan agamanya.

Betapa simpelnya permasalahan ini sebetulnya jika kita terlebih dahulu menyingkirkan sifat takabur dalam diri kita, ketakadilan dalam memandang sesuatu, dan ketakpedulian sosial yang kita selubungi secara agamis. Ketakaburan yang hanya membuat kita pandai berdebat dan menghujat, tapi nol besar dalam berperan dan mengabdi pada masyarakat. Marilah kita pandang segala bencana yang menimpa bangsa ini sebagai satu peringatan Tuhan akan ketakaburan kita selama ini, tentang betapa banyak omongnya kita ini.

Wahai saudaraku seiman, kalau kamu masih memegang teguh amar makruf nahy munkar, ya sudah, jangan banyak cakap, langsung terjemahkan ke wilayah praksis. Juga yang di dalam dadanya menyala-nyala semangat Islam rahmatan lil alamin, ya sudah, jangan sibuk mendoktrin. Tolonglah saja siapapun saudaramu yang perlu kau tolong. Sebab sebetulnya kacau balaunya negeri ini, segala apa yang kau lawan: kemerosotan akhlak dan akidah masyarakat, kesyirikan demi kesyrikan, kemungkaran demi kemungkaran, dan kezaliman demi kezaliman yang terjadi setiap hari; sebetulnya itu hanyalah konsekuensi logis dari ketakpedulian kita selama ini dalam mengurus umat dan mengentaskan mereka secara tuntas dari kemiskinan dan kebodohan. Sebabnya hanya satu; kita terlalu senang menyalahkan negara, hukum, dan orang lain yang tak sepemahaman, untuk menutupi ketakmampuan individual kita sendiri. Ketakmampuan memihakkan diri pada yang lemah, ketakmampuan menerjemahkan Islam rahmatan lil alamin dalam keseharian kita, lalu kita mencari-cari pembelaan dari kitab suci. Dan sungguh, Tuhan tidak akan membiarkan kita terus-menerus menutupi kebodohan kita dengan perdebatan yang kita selenggarakan di tengah-tengah kesengsaraan dan penderitaan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: