Pelacur-Pelacur Indonesia

Tulisan ini tidak saya tujukan untuk membaladakan nasib para pelacur Indonesia, apalagi membicarakan soal halal haramnya profesi pelacur. Sebab istilah ‘pelacur’ itu ambigu dan kabur sekabur-kaburnya.

Kamus Bahasa Indonesia kita agak pragmatis juga. Istilah ‘lacur’ memang diterjemahkan secara tepat, yakni tidak baik kelakuan. Tapi entah dari mana asal mulanya arti entry itu ditambahi tentang perempuan. Sedang kata ‘melacur’ diartikan sebagai berbuat lacur; menjual diri ditambahi sebagai tunasusila atau pelacur. ‘Pelacur’ ditulis orang perempuan yang melacur; sundal; wanita tunasusila; kemudian ‘pelacuran’ diartikan perihal menjual diri sebagai pelacur; penyundalan.

Saya simpulkan arti-arti tersebut amat tidak fair secara gender. Istilah pelacur selalu diasosiasikan dengan perempuan, seolah laki-laki tidak bisa, tidak mungkin menjadi pelacur. Laki-laki hanya digelari ‘gigolo’, itupun tak populer. Namun kaum wanita digelari secara amat spesifik, ‘WTS’, wanita tuna susila. Mengapa tidak pernah ada ‘PTS’, pria tuna susial? Bahkan istilah PSK itu kental nuansa keperempuannya ketimbang kelaki-lakiannya.

‘Menjual diri’ secara sederhana hanya diartikan menjual tubuh untuk dinikmati secara seksual, menjual ‘keperawanan’, dan sama sekali tak ada istilah ‘menjual keperjakaan’. Kaum wanita direndahkan melalui stigmatisasi semacam ini. Kenyataan ini membuat posisi kaum lelaki berada diatas perempuan, yang seolah bersih, tak pernah bersinggungan, dan terpisah dari realitas dunia pelacuran.

Namun ‘menjual diri’ tidaklah bisa diartikan sesederhana itu dan diformalkan menjadi idiom yang identik dengan prostitusi, seks komersil, dan wanita. ‘Menjual diri’ tidak bisa disempitkan maknanya menjadi ‘menjual tubuh’, sebab yang tergolong ‘diri’ bukan hanya ‘tubuh’. Hati, nafs (jiwa), raga, akal, semua adalah anggota ‘diri’. Jika sudah demikian, alangkah sempitnya makna ‘menjual diri’ saat ini. Istilah ‘lacur’ dan anasir-anasirnya mengalami penyempitan makna dan peyorasi (pelabelan buruk).

Para caleg, capres, cakada, bisa digolongkan ke dalam pelacur apabila mereka menjual diri pada rakyat banyak. Bukan secara fisik, namun secara ideologis. Ia menjual nuraninya dengan cara membohongi banyak orang tentang kenyataan dirinya yang sesungguhnya. Ia melacurkan akalnya untuk keperluan merampok uang rakyat, walau sebetulnya akalnya akan jauh lebih berguna jika ia gunakan untuk memikirkan kemajuan rakyatnya. Ia melacurkan nafs-­nya (jiwa), yang didalamnya bermaqam ruh Ilahi, melalui serangkaian perbuatan kotor selama ia memimpin. Ajang pemilu-pilkada sebenarnya tak lebih dari sekedar kontes pelacuran massal yang amat telanjang. Namun itu hanya berlaku pada pemilu-pilkada yang disesaki partai pencoleng, calon pencoleng, tim sukses pencoleng, dan pemilih yang juga pencoleng. Mereka semua adalah kesatuan pelacur.

Juga kepada para ahli ilmu yang melacurkan ilmunya pada anak-didiknya demi kebenaran sepihak yang ia yakini sendiri. Kepada mereka yang tak mau mengakui kekalahannya dalam hidup, lalu serta merta menggalang dukungan dengan jargon-jargon ideologis bahkan teologis, untuk siap sedia menghancurkan manusia sekaligus kemanusiaannya. Mereka yang dalam hatinya bergerombol amuba-amuba kebencian, yang melihat selain dirinya adalah ancaman dan musuh, lalu menyebarkan ajarannya pada setiap orang, ia terkategorikan dalam pelacur juga.

Mereka yang menjual kesejatian ilmu, kesejatian akal, kesejatian nurani, kesejatian jiwa, kesejatian kebenaran, kesejatian hidup, kesejatian kemanusiaan, adalah para tunasosial, tunaakal, tunamoral, tunanurani, tunajiwa. Merekalah pelacur-pelacur sejati. Oi!

One response to this post.

  1. Posted by hendra on February 13, 2011 at 4:21 pm

    Sesungguhnya banyak faktor yang menyebabkan kondisi personal,komunitas,golongan tuk menjadi “pelacur”.
    Dalam kondisi yang seperti ini,jelas kembali ke hati nurani dari masing-masing individu.Apakah mau melacur atau tidak.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: